Nanti saat kau lelah, sudah ku siapkan bahuku untukmu. Nanti saat aku
lelah, apa yang kau lakukan? Nanti jika amarahmu memuncak, akan ku siapkan es
batu beserta air sirup untuk hatimu. Nanti jika amarahku yang memuncak, kau mau
siapkan apa? Nanti saat percayamu terkikis, sudah kusiapkan bibit kepercayaan
yang siap ku tanamkan lagi dihatimu. Kalau percayaku padamu yang terkikis, apa
yang kau laukan? Nanti jika kau merasa rapuh, akan ku tawarkan sayapku untukmu.
Nanti jika aku yang rapuh, apa yang kau lakukan? Nanti jika dunia mulai terasa
pengap, sudah ku siapkan tabung oksigen untukmu. Nanti jika aku merasa pengap
akan dunia ini, apa yang kau lakukan? Nanti kalau ternyata kau tak bersamaku,
do’a ku untukmu akan selalu menemani hidupmu. Nanti kalau ternyata aku tak
bersamamu, cukup kau selalu bahagia dengan hidupmu itu sudah berarti untukku.
I
won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up
Untuk peluh, waktu, harapan dan semua ucapan do’a.
Mungkin kita pernah merasakan bahagia bersama meski saat ini kita
merasakan bahagia kita sendiri. Atau mungkin, aku sendiri yang merasa bahagia
hingga kau melangkah menjauhpun aku tak sadar. Untuk semua peluh yang bercucuran
untuk menahanmu tetap bersama ku, itu rasanya masih tak cukup. Untuk semua
waktu yang kusisihkan untukmu, dan masa lalu kita yang selalu menjadi bayang-bayang
tiap langkahku, sepertinya masih tak meyakinkanmu. Untuk semua harapan yang
selalu ku dendangkan tiap kali ku tatap matamu, rasanya masih belum cukup untuk
menahanmu dan meyakinkanmu untuk tetap bersama ku. Bersama-sama menata kembali ruang
yang hancur berantakan. Bersama-sama mengambil kesempatan yang ada untuk kita. Tapi
rasanya, sampai saat inipun tak mampu jua menakluan hati batumu itu.
Tapi disini, masih bersenandung do’a untukmu. Untuk hidupmu agar selalu
bahagia disetiap hembusan nafasmu. Untuk hidupmu, agar kau selalu dilindungi
disetiap langkahmu. Untuk hatimu, agar kau tahu bunga mana yang pantas untuk
mengharumkan hari-harimu. Agar kau tahu, tempat persinggahan akhirmu saat kau merasa
jenuh dengan dunia. Agar kau tahu, bintang mana yang selalu menerangimu dikala
malam dan pada siang hari jadi mataharimu yang siap menerangi hari-harimu tanpa
sinar yang berlebihan agar kau tak merasa kepanasan.
“Hati yang
rusak memang mencintai kenangan, walau sadar didalamnya banyak luka dan
kekecewaan yang tak pernah sembuh”- Kata Hati @benzbara_
Aku sangat
sadar. Sadar sekali bahwa hati ini memang sudah tak sanggup lagi membahagiakan
hidupnya. Sadar sekali bahwa tangan ini sudah tak mampu lagi menggenggamnya.
Sadar sekali bahwa namaku sudah sama sekali tak terlintas dipikirannya dan
sudah bukan rahasia lagi kalau hatinya sudah bersih dari kenangan antara kami
berdua. Dan sudah tak ada lagi cerita antara “kita”. Sekeras apapun aku
berusaha mendapatkanmu kembali, secepat itu pula dia berusaha pergi jauh dan
tak memperdulikan apapun tentang “kita” yang tersisa meski tersisa hanya
untukku. Bahkan, dia tak sama sekali memberi kesempatan untuk membuktikan apa
yang ingin aku tunjukkan. Kalau ada orang terjahat didunia, harusnya namanya
yang ku sebutkan. Tapi entahlah, mungkin tempat yang dia tinggalkan dan masih
berantakan ini pun tak kan lagi diperdulikannya. Karena memang ini sudah menjadi
urusanku sendiri. Aku yang terlalu berlebihan membiarkan ruangan ini semakin
berantakan. Dan akhirnya, aku terlalu repot untuk mengatasinya sendirian. Sudah
setengah tertata rapi, kemudian berantakan lagi layaknya kapal pecah. Iya, aku
lagi yang buat itu berantakan. Tak ada yang perlu dipersalahkan untuk hal ini,
karena memang aku yang selalu berlebihan dan tak sungguh-sungguh untuk
membereskannya.
“kalau satu
menit saja aku bisa langsung mencintaimu, mengapa dengan satu detik saja aku
tak mampu melupakanmu?”
Sampai pada
suatu ketika, datang seseorang yang menawarkan jasanya untuk membersihkan
ruangan ini yang masih saja kubiarkan berantakan setelah saat itu ku coba membereskannya
sendiri dan ternyata gagal. Tapi tak pernah berlangsung lama, mereka yang
menawarkan jasanya itu malah kewalahan sendiri dan menyerah kemudian. Dan
sepertinya aku yang jahat dan tak pernah membiarkan mereka membereskannya tapi
malah membuat mereka bosan karena saat membersihkannya pun aku masih saja
mengingat hal terkecil yang terkesan aku tak pernah mau dibantu membereskan
ruangan itu.
Dan
akhirnya, aku kembali lagi bersama kenangan dan masa lalu itu. Sendiri terdiam
dan tak lagi berniat untuk membereskannya. Membiarkan waktu terbuang sia-sia.
Tak menghiraukan debu yang semakin lama semakin menebal. Aku mulai lagi terbuai
dengan segala fantasi masa lalu ku bersamanya yang sebenarnya tak banyak
dibandingkan dengan sakit yang ditinggalkannya. Aku mulai lagi menyayanginya
disudut gelap. Aku mulai lagi menikmati keindahannya dari ruang berantakan ini.
Tapi sekali lagi, aku menangis dan dengan sendirinya membereskan tempat ini
dengan sisa rasa percaya, dia takkan pernah kembali dan takkan pernah mau
membantuku membereskan ruang yang lama ditinggalkannya. Sedikit lebih rapi
meski hanya dihilangkan debunya.
“ketika ia
pergi sambil mengucapkan, terimakasih dan selamat tinggal. Itu artinya, tidak
akan ada lagi kita”
Kali ini seseorang
datang lagi menawarkan ketulusannya. Ku kira ini akan sama seperti yang lalu.
Seketika menyerah dan berlalu begitu saja. Tapi entah mengapa lagi, aku ingin dia
tetap bertahan tanpa keraguan, maka tak ku biarkan dia melihat ruangan
berantakan yang tak sempat ku bereskan. Ku tutup ruangan itu tak adapun yang
tau. Ku tempatkan dia bukan ditempatku yang berantakan. Kuberikan dia ditempat
baru. Tempat yang masih kosong, yang terserah sesuka tingkahnya mau dia apakan.
Tapi seiring waktu berlalu, dia tahu semuanya tanpa ku tahu sebanyak apa dia tahu
dan menemukan ruangan berantakan itu. Aku lebih senang, kalau dia mengetahui
semuanya lewat aku. Aku jahat lagi ya? Iya. Aku jahat. Maaf ya.
Aku kira dia
akan menyerah setelah tahu itu. Tapi aku tak tahu dia menyerah atau tidak. Dia sempat
merubah posisi ku dihatinya. Menjelaskan sebenarnya hubungan apa yang kita
jalani. Dan sebenarnya, aku kecewa. Aku kecewa karena dari awal aku yakin dia
tak seperti yang lain. Tapi dengan semua yang dia isyaratkan, sepertinya dia
memang menyerah dan aku tak punya daya untuk menahannya. Dia pergi. Menghilang.
Aku yang tak menahannya.
Tapi kemudian
dia kembali lagi. Entah menempatkan ku ketempat yang dahulu sebelum dia
mengetahui ruangan berantakan dihatiku atau ini hanya tipu dayanya untuk
tiba-tiba menghilang. Tapi yang harus dia tahu, dia masih diruangannya yang
dulu. Dan aku, juga masih berusaha membersihkan ruangan sebelah yang berantakan
itu. Sendirian untuk kali ini. Dan untuk yang terakhir itu, jangan sampai dia
tau. Bukan plin-plan, tapi nanti, dia terlalu repot untuk membantuku
membersihkannya.
“Akan selalu
ada salah satu dari tujuh warna pelangi yang menjadi favouritemu, meski dengan
tujuh warna lebih indah”.
“hai, apakabar? Aku masih disini, menantikanmu”
Bisikku pada setiap hembusan angin yang tak kunjung lelah
kulakoni tiap harinya ditempat yang sama dan waktu yang sama. Juga dengan hati
yang sama. Kata yang akupun tak tahu memiliki arti atau tidak untukmu. Kata
yang entah sampai atau tidak ditelinga indahmu. Kata yang entah akan utuh saat
kau terima atau tidak. Tapi angin baik hati yang tak pernah lelah mendengar
bisikku pasti menyampaikannya dengan sempurna. Sesempurna hati yang telah kau
hancurkan dan kau hancurkan lagi, lalu utuh dengan sendirinya.
Jangan pernah sekalipun kau tanya, mengapa aku hanya berani
berbisik indah pada angin! Karena terlau banyak alasan tak masuk akal yang akan
aku berikan. Mulai dari tatap matanya yang tajam setajam elang yang memaksa natrium
klorida pada kelenjar keringat ekrin tubuhku keluar dengan abnormal, aroma
tubuhnya dan parfumnya juga merusak semua sel syaraf motorik dalam tubuhku juga
senyumnya dan gelak tawanya pun mampu menghancurkan fungsi lapisan korteks
dalam otak besar milikku. Tak masuk akal bukan? Jangan tertawa, ini memang
sangat klise tapi untuk kata yang bernama cinta terkadang apapun yang tak masuk
diakal pun akan seketika dimengerti hati.
Disini. Disudut hati yang sama. Menunggu hati yang tak
kunjung tergapai nyata. Penantian yang tak tahu kapan berujungnya. Bersama
bulan dan bintang saat malam tiba, berdansa dan bernyanyi bersama mereka.
Bersama kupu-kupu, hembusan angin, ilalang, bunga-bunga indah dan terik
matahari, berangan indah menggapai setiap sudut hatinya dan menyentuh setiap
sudut cintanya. Bersama matahari indah dikala senja, menatap bayangan semunya
yang akan hilang tak terlihat saat matahari berganti menjadi bulan. Tak pernah
lagi sosoknya singgah disini menemaniku semenjak keputusannya untuk pergi dan
takkan pernah kembali lagi ketempat ini. Tak mampu lagi tanganku ini menahannya
hingga yang terlihat hanya siluet tubuhnya yang kemudian hilang terbawa jarak.
Menangispun tak kunjung mampu membawamu kembali lagi. Dan mungkin Tuhan memang
sudah tak mengijinkannya. Tapi Tuhan tak pernah mempertemukan lalu memisahkan 2
orang tanpa alasan dan sebab.
Dan sekarang, untuk siapa dan apa aku menantipun aku tak
tahu. Bagaimana caranya pun aku berbisik pada angin untuk menyampaikan pesanku
pun aku tak tahu. Kapan pesanku sampai atau apakah pesanku sudah terdengar pun
aku tak tahu. Lelah pun menghantam semua sel-sel dalam tubuhku hingga aku tak
mampu menopang lagi tubuhku sendiri. Terlalu kejam dan ironi untuk hati yang
sudah tertata rapi kemudian dengan semena-menanya kau hancurkan dan kau
tinggalkan begitu saja. Ini bukan menjadi alasan kau mengasihaniku, karena
cinta yang tulus tak pernah sia-sia. Aku mencintaimu, dan kau meragukan setiap
helai tumpukan kasih sayang yang ku berikan. Tak apa, karena ragu pun pasti pernah
menyelimuti tiap hati seseorang.
Disini. Lagi. Disudut hati ini yang berbeda. Aku mulai
berbisik lagi pada angin.
“Angin, tolong sampaikan padanya, aku masih disini lagi. Dengan
hati yang berbeda. Dengan sosok yang siap untuk sama-sama berdansa dan
bernyanyi bersama bulan bintang. Untuk sama-sama berangan tentang masa depan
bersama kupu-kupu, hembusan angin, ilalang, bunga-bunga indah dan terik
matahari. Untuk tetap bergandengan tangan saat senja datang. Sampaikan ini pula
pada sosok disampingku ini. Sosok yang yakin dan tanpa keraguan. Terimakasih
banyak.”
Fan Page Bukune : (http://www.facebook.com/bukunepenerbit)
Tumblr Bukune : (http://bukune.tumblr.com)
Ketika ribuan orang bahkan hampir semua orang mengganggap
aku bodoh dan tak memiliki harga diri. Toh, mereka tak tau apa yang
sesungguhnya aku rasakan. Ketika kebanyakan orang berlari meninggalkan masa
lalu. Toh, mereka tak tau apa yang sesungguhnya berarti dimasa laluku. Ketika semua orang membuka lembaran
baru nersama orang yang berbeda. Toh, mereka tak tahu apa yang bisa membuatku
bertahan untuk membuka lembaran baru dengan orang yang sama. Karena setiap
orang pasti berbeda. Aku contohnya, si bodoh yang tak tau diri. Memang
seharusnya aku sudah berlari jauh tak kembali tapi ketika aku berlari jauh
sekali, akhirnya aku pun lelah sendiri dan kembali lagi ke tempat itu berharap
dia menjemput ku kembali dengan membawakan sejuta kenyataan bukan hanya sebuah
harapan semu. Seharusnya pula, aku beristirahat ditempat yang berbeda ketika
aku lelah untuk berlari, tapi entah apa yang menahanku terus kembali ke tempat
yang sama saat ia tinggalkan ku sendiri bersama serpihan kenangan yang masih ku
tata rapi secara diam-diam tanpa ada yang tahu. Dan akhirnya semua orang pun
tahu betapa menyedihkannya aku saat ini, dan sepertinya aku patut untuk
dikasihani. Tapi entahlah, aku terlalu yakin saat ini. Entah pula yakin untuk
terpuruk kembali atau yakin bangkit dengan sendirinya seperti yang lalu-lalu.
Malam ini angin malam sepertinya menggodaku lagi. Meninginkan
aku menari bersama bayanganmu yang telah lama pergi. Senyummu kembali meghiasi
khayal ini. Tingkahmu mulai menggodaku lagi layaknya angin malam saat ini. Dingin
tapi menghangatkan hati. Entah aku harus berbuat apa toh yang ku tau kau hanya
singgah sebentar kemudian kembali menghilang lagi kan?
Meski kau tak pernah mengatakan kapan kau akan datang,
seberapa lama kau akan tinggal dan kapan kau akan pergi menjauh lagi tapi aku
sudah menerka semua gerak tubuhmu. Seberapa lama kau akan tinggal disini untuk
menemani aku berdansa dibawah sinar rembulan, berlari mesra dibawah rintik
hujan kemudian bersama-sama memandangi pelangi yang muncul, danbernyanyi
dipinggir pantai menyanyikan lagu kita dibawah terik matahari.
Semuanya yang dulu belum sempat kita lakukan ingin aku
lakukan saat kau memilih untuk tetap tinggal. Tapi kau tak pernah mengatakan
kau akan tinggal disini lagi. Isyarat yang kau berikan tak pernah terteka
olehku. Entah karena aku yang tak peka atau karena alasan lain.
Aku tak pernah memohon untuk kau tinggal lebih lama disini. Aku
juga selalu bilang padamu kapanpun kau menginginkanku datang saja ketempat
dimana kau tinggalkan aku sendiri karena disitu aku masih duduk termangu. Duduk
memandangi sinar rembulan, duduk dibawah rintikan hujan, duduk memandangi
pelangi, duduk dibawah terik matahari sambil bernyanyi. Dan kau tahu? Semuanya kulakukan
sendiri.
Jangan pernah tanya alasan aku melakukan semua itu karena
aku sungguh tak tau apa yang akan aku katakan padamu nantinya. Aku hanya ingin
melihatmu tersenyum kembali. Tapi aku yang membuatmu tersenyum. Bukan orang lain.
Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu saat ini ketika kemarin aku tak
sempat memberikan yang terbaik. Setidaknya, berilah alasan sedikit kenapa kau
tetap yang aku tunggu?
Wajah elok nan rupawan mu masih menjadi juara
di hati ini.
Tutur manis kata-katamu masih syahdu
terdengar di setiap sudut telingaku.
Ketangguhanmu masih menjadi kekuatan dihati
ini.
Kesabaranmu dan kehebatanmu selalu jadi
pelukan untuk perangaiku ini.
Belaianmu masih sangat terasa lembutnya
disetiap ujung jarimu dan telapak tanganmu pada pundak ini.
Pelukan hangatmu masih sangat menghangatkan
hati yang dingin ini karena tertusuk angin luka.
Kau masih menjadi yang pertama dihati ini,
dihidup ini dan disetiap ucapan do’a ini.
Kau masih terus menjadi yang pertama sebagai
tujuan hidup, aku hanya ingin membahagianmu disetiap saat selama aku mampu.
Aku ingin terus melihat ukiran senyum manismu
di sela-sela bibir indahmu.
Aku tak ingin melihat kau menangis karena
apapun juga.
Dengan sekuat tenaga akan ku hapuskan semua
air matamu dan menggantinya dengan kebahagiaan tiada berujung untukmu.
Akan ku musnahkan semua keresahanmu tentang
apapun alasan yang membuatmu memurungkan wajah cantik sepanjang masamu.
Aku ingin terus dipeluk olehmu.
Aku ingin terus tertidur pulas dipelukanmu.
Aku ingin terus merasakan hangat dekapmu saat
aku merasa dunia sudah terlalu dingin.
Aku ingin terus merasakan kesejukan berada
disisimu saat cinta terlalu panas membakar luka.
Aku ingin terus menceritakan semua
hari-hariku.
Aku ingin menceritakan semua kisah ku yang
ingin menjadi terbaik untukmu.
Aku ingin terus membuatmu tersenyum bangga.
Aku ingin kau tau semuanya hanya untukmu.
Sekali lagi, aku ingin menjadi yang terbaik
untukmu.
Hari ini, 5 Juni 2012, umurmu makin bertambah.
Pelukanmu masih sangat menghangatkan setiap hariku, senyummu memaniskan pagiku,
dan do’amu selalu menjagaku setiap detiknya. Aku selalu mendo’akan yang terbaik
untukmu. Selalu menginginkan menjadi yang terbaik untukmu dan tak pernah
mengecewakanmu sekalipun. Aku takkan menjadi seorang anak pembangkang lagi. Aku
akan turuti semua yang kau perintahkan karena aku selalu tau semua yang kau
lakukan untukku pasti yang terbaik untukku. Tapi Kali ini, aku sadar masih
belum bisa menjadi yang benar-benar terbaik dan yang bisa dibanggakan untukmu.
Selamat ulang tahun ibu :”)
Panjang umur dan sehat selalu. Selalu bahagia
disetiap langkahmu. Tak ada lagi tetesan airmata sendu yang keluar dari sudut
matamu. Semua yang terbaik untukmu pasti akan aku lakukan :”)
mama you know i love you
mama you're the queen of heart
mama you're the queen of heart



