• Home
  • About
  • Blog
  • Food
  • Travel
  • Beauty
  • Hype
  • Drama-Korea
facebook twitter instagram linkedin

melanoktavia

Semuanya sudah berguguran. Kenangannya, senyumnya, kisahnya dan hatinya. Berguguran bukan untuk hati ini, bukan untuk kisah ini dan senyum ini. Sudah memiliki kisah baru, hati baru dan orang yg mampu diberikan senyuman setiap hari.

Tak saling menyapa, tak saling mengetahui kabar, tak saling bersenda gurau harusnya menjadi  pelatihan khusus hati saat memang sudah ditiadakan dengan sungguh-sungguh. Seharusnya menjadi sebuah batas waktu, kalau memang benar sudah waktunya berhenti berjuang mempertahankan sesuatu yg tak lagi seharusnya diperjuangkan.

Harusnya air matanya sudah tak lagi diberikan untuk kisah lampau ini. Harusnya tulisan di blog ini sudah ditutup untuk kisah yang lalu itu. Harusnya saat menulis blog ini sudah tak lagi meneteskan air mata. Dan harusnya sudah tak ada lagi kenangan yang tertinggal. Dan seharusnya hati ini tak lagi terasa sesak.  Harusnya lukanya sudah mengering karena waktu. Harusnya sudah mulai ikhlas. Harusnya tak seperti ini. Harusnya sadar dengan apa yang dilakukan.

Entah harus berapa kilogram angin untuk menghapus air mata. Angin pun sudah enggan untuk menghampiri. Entah berapa puluh ribu udara yang harus berhembus untuk memberikan oksigen dan kekuatan untuk raga yang teramat rapuh ini.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
mawar ga pernah meminta kumbang menghampirinya.
mawar ga pernah memohon pada kumbang untuk menemaninya.
mawar ga pernah memelas pada kumbang agar mau kembali menghampirinya.
kumbang yang menghampiri mawar dengan sendirinya.
kumbang sendiri yang tertarik akan rupa elok mawar.
kumbanglah yang menemani mawar tanpa harus dipinta.

dan kali ini aku akan jadi mawar.
tak akan meminta kembali hatimu.
tak akan memohon kembali cintamu.
dan tak akan memelas kembali rindu untukku.

dia sendiri yang nantinya akan menghampiri sepi
dia sendiri yang akan datang menemani sosok kesepian
dia sendiri yang akan pulang kembali dalam pelukan hangat jika memang dia orang yang tepat.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Jam dinding menunjukkan angka 03.40 dini hari waktu bagian Indonesia barat. Mengantuk? Tidak. Mungkin efek kopi yg tadi kuminum atau mungkin karena seteguk kenangan yg tadi sempat terlintas.
Ketika sepi memang benar-benar mencekik, rasa rindu menyapa dengan mesra seolah musik-musik pengantar kematian. Entahlah, tapi yg kali ini aku rasakan bukan sekarat, tapi mungkin lebih ke over dosis. Iya over dosis karena merindukanmu.

Ini sudah terlalu lama dan amat terlalu lama aku menantinya datang kemari menjemputku. Aku duduk disini, ditempat dimana seseorang mencampakanku begitu saja dengan meninggalkan luka yg teramat dalam yg hingga kinipun belum juga mengering.

Ketika itu aku merasa sepi. Hampa lebih tepatnya. Aku sendiri disini. Bernyanyi sendiri. Berdansa sendiri. Meloncat sendiri. Melamun sendiri. Sedangkan bulan diatas sana dengan sangat angkuhnya memamerkan kemesraannya bersama bintang. Dan aku iri.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Stiap orang pasti mengalami perubahan. Entah ke arah yg positif atau negatif, yg pasti itu pilihan hidup mereka. Emang cuma waktu yg bikin semuanya berubah. Ketika waktu benar-benar tak lagi memberi kesempatan, maka waktu juga yang membuat perubahan. Waktu emang ga bisa diulang. Dan gw emang ga bisa yg namanya nyalahin waktu.

Ketika semua benar-benar berubah, gw ga tau apa yg terjadi. Gw cuma tau, gw merindukan masa lalu. Semuanya. Semua yg pernah terlewati. Masa lalu emang ga semuanya manis, kadang kala juga pahit. Tapi kadang, gw mikir kenyataan yg sekarang lebih pahit dari masa lalu. Dan seandainya ada mesin waktu.

Menapaki tempat-tempat yang berhubungan dengan masa lalu pasti akan terasa sedikit memiris. Entah memiris apa tapi rasanya itu sesak nafas. Apalagi tau kalo disana memang sudah berubah. Semuanya.
Bersyukur. Satu-satunya cara untuk mengendalikan penyesalan yg berlebihan, cuma bersyukur yang bisa bikin kita tidak menyalahkan waktu. Setiap peristiwa pasti ada hikmahnya. Dan setiap masa lalu pasti ada pelajaran dibalik itu semua.

"Aku merindukan kamu yang dulu"
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Seandainya semua kata yang bisa terucap dihadapanmu bisa semua ku ungkapkan. Tapi tidak untuk harga diriku kali ini. Sudah cukup lama aku memaksakan kehendak yang tidak seharusnya. Aku disini hanya menjalani apa yang harusnya terjalani. Tanpa memaksakan semuanya berjalan dengan apa yang aku inginkan. Aku memang dilahirkan dan dibesarkan dengan kasih sayang yang berlebihan hingga aku dewasa ini menjadi anak manja yang apapun keinginannya selalu ingin dipenuhi. Dulu saat aku masih berumur 6 tahun, aku masih ingat sekali ketika aku sangat menginginkan boneka cantik sebagai koleksi dikamarku, aku merengek-rengek memelas kepada ayah dan ibu untuk segera membelikan boneka itu sebelum kehabisan ditoko, dan saat itu pula ayah langsung membawakan pulang boneka yang aku inginkan kerumah. Dulu juga saat aku berumur 12 tahun, aku mengingankan tas lucu untuk aku sekolah, sama halnya seperti waktu aku mengingankan sebuah boneka lucu ditoko mainan saat itu, harga tas itu tak semurah yang aku bayangankan, uangku tak cukup membelinya dan aku kembali merengek kepada ayah dan ibu untuk dibelikan tas itu, seketika pula ibu membelikanku tas yang aku inginkan. Dan dulu saat aku berumur 16 tahun, aku menginkan baju bagus untuk aku gunakan saat pergi bersama teman-temanku, dan seperti biasanya, ayah dan ibu selalu menuruti apa yang aku inginkan.

Sampai tiba saatnya, ketika aku harus menyadari bahwa tidak semua yang aku inginkan bisa terwujud, aku mulai menangis terisak, ketika ayah dan ibu atau siapapun tak mampu membawakannya didepanku. Kau pasti tau itu apa. Iya, cintanya. Cintanya untukku yang dulu masih ada, masih ada dan hanya untukku. Sayangnya yang dulu mampu menaklukan semua egoku, memberikanku kekuatan untuk aku bertahan dan bersabar, dan cintanya yang selalu mengajarkanku arti sebuah kekuatan. Aku ingin itu kembali! Sungguh! Tapi itu tak semudah mendapatkan boneka, tas dan baju berharga sekalipun. Ketika aku tak mampu mendapatkan boneka, aku bisa saja menangis seharian kemudian esoknya boneka itu sudah ada dikamarku. Ketika aku tak mampu membeli tas yang aku inginkan, aku bisa saja tidak makan seharian, kemudian esoknya tas itu sudah bisa aku pakai untuk aku pamerkan kepada teman-temanku. Dan ketika aku menginginkan baju mewah dan mahal, aku bisa saja bersabar, mengumpulkan uang, dan kemudian baju itu sudah bisa ku pakai. Berbeda dengan ini. Aku sudah menangis berbulan-bulan, aku pernah mencoba untuk tidak tidur beberapa hari, aku terus mencoba menyiksa diriku sendiri, aku juga mencoba bersabar, aku masih mencoba untuk tidak menghiraukan harga diriku sekalipun sampai hatinya kembali lagi hanya untukku. Aku mencoba segala cara dengan daya dan kekuatan yang masih tersisa. Tapi apa? 

Tidak sekalipun dia menoleh ke arahku.  Dia terus berjalan meninggalkan ku disudut hampa ini sendirian tanpa meninggalkan apapun. Bayangannya semakin menjauh. Aku mencoba mengejar. Ku gapai bayangannya sebentar. Aku senang. Fikirku, aku akan menggenggam kembali tangan hangatnya dulu, kemudian aku akan kembali dirangkulnya dengan penuh kasih sayang.  Kau tahu betapa senangnya aku? Aku meloncat kegirangan. Meloncat hingga aku terjatuh dan merasakan sakit.  Tapi aku merasa aneh dengan rasa sakit ini, aku tak merasakan sakit berlebihan tapi aku mengeluarkan air mata dan terisak. Bayangannya menjauh, ku kejar lagi dengan lutut yang berdarah.  Kembali kudapati bayangannya, aku kembali meloncat kegirangan dan jatuh kelubang. Lagi-lagi aku tak merasakan sakit tapi aku terisak kembali. Bayangannya menjauh dan aku mulai panik dan mengejarnya kembali. Bayangannya semakin menjauh dan aku tak mampu mengejarnya dengan luka yang cukup berat. Dadaku semakin sesak. Tangisanku mengeras. Aku kembali terisak dengan mata bengkak saat ini. Namun langkahku terus mengikuti jejak yang ia tinggalkan, masih tersisa harapan bahwa aku akan menemukan bayangannya kembali. Tertatih aku menyusuri jalanan itu, entah apa yang aku lakukan, aku meninggalkan semua yang harusnya aku bawa. Aku kembali terisak.

Bayanganmu semakin tak terlihat. Jejakmu terhapus seketika. Tapi siluet tubuhmu terlihat dari kejauhan. Aku menjerit keras kemudian dadaku sesak. Habis sudah air mataku untuk menangisimu. Tak mampu lagi aku menahan sesak ini. Aku butuh sesorang untuk mengobati lukaku. Aku butuh tempat bersandar untuk menaruh segala peluhku. Tapi disini tak ada seorangpun. Hanya ada aku dan siluet tubuhmu bersama sosok wanita yang saat ini kau rangkul dengan mesra. Aku tak sanggup melihatnya. Benar-benar tak sanggup. Aku tak kuat. Seketika pula, aroma tubuhmu tercium olehku dan membuat dadaku sesak. Entah apa yang aku lakukan. Aku kembali mengikuti  jejak tapak kakimu yang tertinggal. Aku memang bodoh, harusnya aku tak lagi mengikutimu. Aku tak lagi mengharapkan kau melepaskan sosok yang saat ini aku lihat sedang kau rangkul mesra. Aku tak lagi mengharapkan sosok wanita itu ada dibelakangku.

Mungkin aku cukup pintar, saat aku jenuh mengikutimu tanpa pasti, aku mulai mendapati persimpangan. Aku berbelok tak mengikutimu. Aku mencoba itu. Tapi kau tahu? Itu hanya arah memutar. Dan aku kembali menemukan sosokmu dengan sosok wanita itu. Aku semakin sakit. Ku biarkan kau menjauh. Dan Aku membiarkan sosokku yang rapuh ini berdiam diri ditempat itu. Tempat hampa tanpa seorangpun yang terlihat. Ku biarkan lukaku mengering karena udara. Kubiarkan dahaga dan hausku menggerogoti tubuhku. Kubiarkan tubuhku diam lunglai ditempat itu. Aku lelah. Berhenti berharap, mungkin. Membiarkan semuanya menyakiti ragaku. Aku sudah kehabisan tenaga. Kekuatanku sudah tidak ada. lihat aku sekarang! atau biarkan aku mati ditempat itu!
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Didunia ini ga ada yang namanya “sempurna”
Sama kaya aku, sama sekali ga sempurna
Sama juga kaya kisah kita yang ga sempurna
Meski aku dan (mungkin) kamu juga berusaha buat jadi hampir sempurna
Tapi emang ga pernah bisa sempurna atau mendekati kesempurnaan kan?
Kita emang ga pernah tau apa yang akan terjadi di hari esok
Aku juga ga pernah tau nantinya kita akan seperti apa
Aku juga ga pernah tau aku udah jadi yang terbaik atau belum
Karena kamu ga pernah lagi kasih aku kesempatan buat nunjukinnya
Kamu udah biarin rasa itu mengambang
Kamu udah biarin rasa itu terus menjalar seperti akar benalu
Yang cepat atau lambat akan merapuhkan hati aku atau bisa-bisa hatinya hancur
Tapi aku ga pernah biarin akar benalunya pergi
Biarin aja tetap disitu, ditempatnya
Dan aku ga pernah biarin untuk menjalar ketempat lain
Jika nanti aku tinggalkan tempat itu untuk waktu yang lama
Lalu aku kembali kesana
Aku berharap tempatnya akan semakin indah
Jika nanti aku tinggalkan tempat itu untuk waktu yang lama pula
Aku berharap tempatnya akan semakin indah meski bukan aku lagi orang yang ada disana
Aku sangat yakin kau  bahagia seandainya tak lagi aku yang menemanimu disitu
tapi Aku  berharap pula kau sangat bahagia seandainya aku lagi yang mengenakan mahkota itu
Dan harapan terakhirnya, kau tahu bahwa kau akan selalu berada ditempat terindah entah sampai kapan
Dan aku tetap seperti dulu, menemanimu disaat kau butuh cahaya meski aku menyinarimu dengan cahaya yang tak seterang dulu, karena aku sadar porsi cahayaku saat ini untukmu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar

Setiap pertanyaan pasti ada jawabannya. Setiap ada sakit pasti ada obatnya. Dan setiap ada yang pergi pasti ada yang datang.
Siapa percaya itu semua?

Aku? Kamu? Kita mungkin. Kita semua.

Setiap kata yang terucap mungkin hanya akan menyesakkan dada. Dan setiap tatapan matanya mungkin akan membasahi luka yg kemarin kering. Kalau kau bertanya mengapa. Kau belum tau pasti jawabannya karena apa. Kalau kau bertanya siapa. kau pasti tau orang itu. Kalau kau bertanya apa. Belum pasti kau tau apa sebabnya. Kalau kau bertanya kenapa. Juga belum tentu kau tau apa jawabannya. Kalau bertanya lagi dimana. Belum pasti pula kau tau tempatnya. Dan kau bertanya lagi, kapan. Tak tentu pula kau tau waktu tepatnya.

Dan kau tau pasti kalo sekarang jarum pununjuk waktu didinding sudah menunjukkan waktu 00.22 tapi kau tak pernah mau tau. Sama seperti saat dulu, iyakan? Oh mungkin tidak ya? Entahlah, aku pun tak tau pasti jawabanmu apa, coba kalau sekarang aku bertanya kembali saat ini juga, “Apa kau masih peduli padaku?” 

Kau tau aku berlari? Menghindari bayanganmu yang semakin hari semakin mendekat. Dan aku tak mau bergandengan tangan dengan bayangan. Karena disaat gelap datang, bayangan takkan pernah ada. Dan itu sangat menyakitkan. Kau tau?

Kau tau aku sedang mengobati luka ku? Berdiam diri disudut ruang hampa tanpa siapapun sampai lukaku mengering mungkin akan lebih baik untukku. Dan kau tau itu?

Kau tau saat aku menangis terisak sendiri? Saat aku merasa begitu kehilangan sesuatu yang sangat berharga, saat begitu sangat menyesakkan saat sesuatu yang sangat berharga dan sangat diperjuangkan, pergi begitu saja. Hilang tanpa alasan. Dan sampai sekarang alasan itupun tak mampu menjawab semua pertanyaannya.

Setiap perbuatan pasti ada akibatnya.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Newer Posts
Older Posts

About me



Holla, saya Melan. Kuli coding yang merangkap sebagai penulis diblog ini. Selain berbagi rasa, disini saya juga berbagi info-info menarik loh. Semoga bermanfaat buat temen-temen semuanya. Selamat membaca dan menikmati. Terima kasih, salam manis dan hangat ♥

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • Instagram

Categories

berbagimanisan foodhunter manisanmanis travelling

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (1)
    • ▼  Mei (1)
      • Dirumah Aja Ya
  • ►  2019 (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (8)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
  • ►  2017 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2016 (9)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2015 (7)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2013 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2011 (11)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2010 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)

View

Friends

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose