• Home
  • About
  • Blog
  • Food
  • Travel
  • Beauty
  • Hype
  • Drama-Korea
facebook twitter instagram linkedin

melanoktavia

Siang ini dengan mata terkantuk ku tatap layar monitor komputer. Ku coba untuk mengedip-ngedipkan mata. Tak berarti centil tapi hanya mencoba untuk tetap terjaga. Sedari pagi, awan memang mengkelabukan warnanya dan matahari bersembunyi di baliknya. Malu mungkin atau enggan untuk menyambut hari ini.

Tak terasa sudah setahun aku ditempat ini. Duduk manis sedari jam 08.00 pagi hingga jam 17.00, mengerjakan apa saja yang seharusnya ku kerjakan. Meski sering kali tak ku kerjakan dengan serius tapi masih ku selesaikan tepat waktu. Setahun yang lalu, aku bergelut dibidang yang sama, mengerjakan hal yang sama ditempat yang berbeda. Ditempat orang-orang yang berbeda watak. Ditempat orang-orang yang berbeda keunikannya. Perjalanan yang berbeda dan hidup yang semakin sangat menggemaskan.

Ku nikmati setiap perjalananku disini. Perjalananku sampai saat ini yang prosesnya menegarkan hati dan menyejukkan raga.

Seketika tetesan air dari langit jatuh membasahi jalan Sudirman. Banyak dan ditambah pula angin yang menyimpangkan lajur tetesan hujan. Menyegarkan angan yang bergerumul.

Dari lantai 23 digedung ini, ku lirikkan mataku ke luar jendela. Tak ku cium wewangian khas hujan seperti bau tanah yang spesial. Hanya hawa dingin yang menyeruak ke seluruh tubuh melepaskan penat sejenak. Mungkin karena aku berada terlalu tinggi hingga tak tergapai aromanya.

Ku tatap kearah bawah dibalik jendela, jarang sekali terlihat sepi jalanan ini. Cukup ramai tapi masih lebih tersendat saat jam pulang kerja. Ku hela nafas kemudian ku lepaskan perlahan. Ada sesuatu dalam hati yang tak terucap. Ada kata yang tersimpan rapi di kepala.

Ku butuh waktu tidur lebih banyak

titik

Gambar yang ku ambil dari lantai 23 gedung Wisma Keiai, sesaat setelah hujan deras berhenti

Share
Tweet
Pin
Share
No komentar




I’m back again! Did you miss me? hihi
Akhirnya setelah berbulan-bulan tidak menari-narikan jari jemari diatas keyboard untuk menuangkan rasa, ternyata rindu menulis menguak kembali.
Pagi ini mentari memancarkan kehangatannya di jalan sudirman, semoga awal yang baik untuk memulai kembali mengisi kekosongan di blog ini.
kembali dengan warna baru, semoga semakin memberi kecerahan.
kembali dengan wangi baru, semoga semakin memberi kehangatan.
kembali dengan rasa baru, semoga dapat memberi kenyamanan.


selamat membaca dan menikmati.
Terima kasih sudah sudi berkunjung.

Salam manis,
Melan
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Secangkir teh dengan takaran gula yang pas di lidahku. Disudut ruang dengan jendela yang terpampang manis beraksen kuno, ku lirikkan mataku keluar ruangan. Sore ini, dikala senja menyapa dengan rintikan hujan yang manja, ku tunggu seseorang yang sudah berjanji akan datang. Jarum jam terus bergerak cepat kearah kanan, aku pun tetap menanti dengan aroma teh hijau kesukaanku. Dari arah pintu masuk mulai terlihat Siluet tubuh gagah seorang pria yang ku kenal dengan jelas. Sebelum melangkah masuk ke dalam ruang, sosok itu sempat mengibaskan rambut dan bajunya dari percikan air yang sepertinya sempat bermanja-manja ditubuhnya yang gagah. Semakin lama, semakin mendekat dan tampak jelas semua bentuk nyata tubuhnya.

Sambil menyodorkan tangannya didepanku, tanda mengajak bersalaman sebagai awal perjumpaan kami setelah bertahun-tahun tak ku jumpai lagi dirinya. Iya, bertahun-tahun yang lalu setelah kami memutuskan untuk tidak lagi bersama. Genggaman tangannya masih hangat seperti dulu.

Ah, kenapa masih saja aku mengingat hal seperti ini. Kini aku sudah memiliki pasangan yang terbaik dalam hidupku. Sama seperti pria yang sedang duduk dihadapanku saat ini, ia pun sudah mendapatkan penggantiku yang terbaik untuk hidupnya. Dan aku pun tahu apa yang akan dilakukannya kenapa menghubungiku setelah bertahun-tahun kami berpisah. aku tahu semua alasannya kenapa dia tiba-tiba mengajakku untuk bertemu.

Hatiku sudah tak lagi merasakan perih ketika melihat wajahnya. Mataku tak lagi berlinang ketika tercium wangi parfumnya yang masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya.Tak lagi gemetar tangan ini untuk menyambut sapaan darinya. Tak takut lagi bibir ini tersentyum mendengar semua kebahagiaannya bersama pasangan yang akan mendampinginya selamanya. Sekejap semua perih dan luka hilang begitu saja.

Tak perlu lagi kukuak semua cerita lalu yang telah lama ku tinggalkan. Hidup bukan untuk menikmati masa lalu tapi menjadikan masa lalu menjadi pelajaran berharga. Matanya menatap mataku tajam, senyum dibibirnya menorehkan arti pertemanan.

Beberapa menit berlalu hanya untuk kami yang saling menanyakan kabar masing-masing dan kabar keluarga kami. Terlihat lagi sosok wanita dari arah pintu masuk menghampiri kami, dengan anggun berjalan menghampiri kami. Dan ya benar, wanita ini lah yang akan mendampingi hidup pria yang berada didepanku saat ini.

Dengan senyum manis, wanita ini menyodorkan tangan dengan jari lentiknya ke arahku. Kami pun bersalaman. Kemudian wanita manis ini mengeluarkan undangan berbentuk kotak dengan hiasan bunga berwarna biru. Tertulis nama mereka berdua beserta doa yang mereka harapkan untuk kelangsungan kehidupan rumah tangga mereka nanti. Ya, pria di masa laluku akan menikahi wanita manis yang sedang tersenyum hangat didepanku.

 Tak dapat dipungkiri, akupun ikut berbahagia untuk berita yang mereka kabarkan padaku saat ini. Ucapan selamat dan bahagia pun kututurkan pada mereka, do'a agar mereka menjadi keluarga berbahagia dan menjadi pasangan seumur hidup langsung ku sampaikan.

Aku turut berbahagia. Hidup terkadang memang lucu. Untuk aku gadis biasa saja yang beberapa tahun silam mengikat janji dengan pria ini bertahun-tahun, dan kamipun juga berangan untuk bersama dalam susah, senang, duka dan bahagia bersama tapi ternyata takdir tak menyatukan kami.

Betapa mudahnya untuk tersenyum saat ini. Berbahagia dan sangat beruntung karena aku telah berdamai dengan masa lalu ku. Terima kasih sempat singgah kedalam cerita drama hidupku.

Untukmu dan calon istrimu, 
Semoga kalian berbahagia dan dapat saling mencintai. 

Dari aku, 
Teman kalian.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Pejamkan mata bila ku ingin bernafas lega

Dalam anganku aku berada di satu persimpangan

Jalan yang sulit ku pilih

-          Melly Goeslaw


Malam ini di sudut beranda rumah dengan penerangan lampu seadanya yang tak begitu terang. Ku putarkan lagu legendaris yang tak lekang oleh zaman, Melly Goeslaw yang berjudul Bimbang. Mungkin karena syndrome film AADC2 yang sebentar lagi akan tayang di bioskop setelah 14 tahun Rangga dan Cinta terpisah lautan menunggu satu purnama datang. Atau mungkin karena hal lain. Entahlah, tapi ku rasa angin malam ini terlalu menusuk. Aku ingin menceritakan tentang dia, yang akhir-akhir ini sangat bersemangat, tapi kemarin ku lihat semangatnya memudar. Ku telisik lagi apa penyebabnya, ternyata mimpinya tak terwujud.


Aku tahu sekali rasanya seperti apa. Karena aku pun pernah merasakannya. Ketika kita menginginkan sesuatu, berusaha semaksimal mungkin, tapi ternyata Allah berkata lain.

    “Sometimes the one you want is not the one you need”.

Jadi, apapun hasilnya seharusnya kita bisa menerima dengan ikhlas. Karena Ayahku pernah mengatakan, kunci keberhasilan itu ada 3, yaitu Berusaha semaksimal mungkin, berdo’a tanpa henti dan Ikhlas. Aku juga pernah melihat quote dari Bung Karno:

    “Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang”

Ku elus pundaknya seketika ia menangis terisak sangat keras. Aku tak lagi tahu apa yang harus aku katakan untuk meredakan suara tangisnya. Atau ku biarkan saja tangisnya meledak-ledak agar sesak di dadanya tak lagi menyiksa batinnya. Yang aku tahu selama ini, hatinya sangat kuat, tak mudah rapuh. Tapi bagaimana bisa ia serapuh ini karena hal yang biasa ia dapati sebelumnya?


Karena aku tahu, sebelumnya, ia pun juga pernah bercerita hal seperti ini. Berusaha semaksimal mungkin menurutnya, berdo’a kemudian mengikhlaskan hasilnya. Dan kekuatannya membuat ku iri. Entah apalagi yang membuatnya menjadi seperti ini. Ku usap-usap pundaknya. Ku elus-elus kepalanya. Sesekali ku peluk ia kemudian ku lepaskan. Tapi tamgisnya tak kunjung mereda. Aku tau dia. Seharusnya dia kuat. Tak serapuh ini. Tapi sepertinya ia mulai tak kuat untuk menahan segala yang ia pendam selama ini.


Aku memang sok tau. Ku bilang sedari tadi aku tau, aku tau dia. Tapi apa? Ternyata aku tak tau apa-apa. Ternyata apa yang ia ceritakan kepada ku tak semuanya ia ceritakan. Lebih banyak ia pendam sendiri segala ceritanya, yang ia ceritakan padaku tak ada setengah apa yang ia rasakan. Hanya secuil mungkin.


Dan kata yang tiba-tiba ia ucapkan dalam isakannya adalah “bimbang”.


Ku elus lagi pundaknya, tak dapat ku keluarkan kata-kata untuk menghiburnya atau pun sedikit meredakan isakan tangisnya. Ketika semua yang ia yakini, dan saat ini aku tau apa yang ia rasakan.


"Bimbang".
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Hari ini memang hari jum’at. Dimana kebanyakan orang menantikan hari ini dimana dari hari senin mereka berbanting tulang dan bercucuran keringat (meskipun mereka bekerja di tempat ber-AC) untuk bisa menghidupi kehidupan mereka. Sama seperti aku, aku juga menantikan hari ini. Setelah dari senin hingga jum’at tadi pagi bangun sebelum subuh untuk bersiap-siap melakukan aktivitas, bergelut dengan orang-orang di transportasi umum yang juga ingin melakukan aktivitasnya masing-masing, menanti busway, menanti metromini, belum lagi berlari-larian megejar waktu agar tidak telat sampai kantor, setelah itu belum selesai lagi masih juga harus pulang disore hari, kembali lagi bergelut dengan orang-orang di transportasi umum yang juga ingin kembali kerumah masing-masing, menanti busway, menanti metromini, belum lagi berlari-larian megejar waktu agar bisa sampai rumah dan beristirahat. 

Seperti hari ini, di hari jum’at ini, aku pulang tepat waktu karena aku ingin sampai rumah secepatnya, mencium tangan dan pipi ibu lalu makan masakan ibu kemudian merebahkan tubuh di atas kasur kesayangan. Tapi ternyata perjalanan pulang kali ini terasa sangat panjang dari biasanya. Aku memang sudah biasa dengan perjalanan pulang kantor yang amat panjang tapi entah kenapa hari ini terasa panjang dan melelahkan. Mungkin karena saat aku di busway aku tidak tertidur. Iya biasanya aku memang tidur di busway posisi paling menyenangkan ya tepat di belakang pramudi.

Sampai di busway aku mendapatkan tempat duduk, aku terdiam sambil melamun karena tidak bisa tidur. Macet sudah pasti, padahal jalanan dari kantorku untuk aku transit berpindah busway lagi bukan merupakan jalur macet parah. Busway sangat ramai sekali, ramai dengan anak-anak yang entah selesai melakukan aktivitas apa bersama orang tua mereka. Busway yang biasanya sepi dengan dipenuhi wajah-wajah penuh lelah tapi kali ini busway menjadi seperti arena bermain anak-anak. Ramai sekali.

Setelah sampai di tempat transit yang ku tuju, aku mulai mengantri kembali menunggu busway ke arah kp. Rambutan. “Waduh ramai sekali” aku sepertinya hilang harapan untuk bisa cepat sampai rumah. Cepat-cepat mencium tangan ibu dan pipi ibu kemudian makan masakan ibu lalu merebahkan tubuhku dikasur.



Lama sekali dan antrian makin panjang. Aku tahu, Jakarta memang selalu macet. Pasti buswaynya pun kena macet. Setelah menunggu cukup lama, busway datang dan aku masuk kesana. Ketika pagi, berdesakkan dengan orang-orang yang memiliki harum parfum yang tak sama. Parfum mereka bercampur satu sama lain, suasananya seperti sedang berada di dalam toko minyak wangi kemudian pemilik toko sedang bereksperimen untuk mencampurkan tiap minyak wanginya sehingga semerbak harumnya memenuhi ruangan. Tapi beda pada tiap sore harinya, minyak wangi yang mereka gunakan telah habis harumnya atau malah harumnya masih ada namun sudah bercampur dengan natrium klorida dari kelenjar keringat mereka.

Masih lama sekali, aku untuk sampai rumah. Busway yang ku tumpangi terhenti tak jalan karena macet. Mobil dan motor sudah bersliweran tidak jelas. Iya, aku tau mereka juga ingin cepat sampai rumah, mencium tangan ibu dan pipi ibu mereka, memakan masakan ibu mereka, dan kemudian berbaring di kasur kesayangan mereka.

Di busway ini aku tidak mendapatkan tempat duduk akhirnya aku berdiri menahan segala lelah aku rasanya ingin bergelayutan di pegangan busway tapi busway kali ini sangat ramai. Ditengah lamunanku untuk tiba-tiba aku bisa terbang dan sampai rumah, terdengar sayup-sayup nada merdu yang terdengar dari radio busway.

“Tiada lagi yang kuharapkan, tiada lagi yang kuimpikan
Biar aku sendiri tanpa dirimu
Tiada lagi kata cintaku, tak 'kan lagi 'ku bersamamu
Biar kusimpan semua kenanganku bersamamu”

Ah lagu lawas yang masih enak didengar, bersenandung kecil dengan hapalan lirik seadanya aku mengikuti si penyanyi di radio. Mengeluh, berkesal ria, rasanya tak ada gunanya. Aku hanya ingin satu, ingin cepat sampai rumah, mencium tangan ibu dan pipi ibu, memakan masakan ibu, kemudian merebahkan tubuhku diatas kasur.

Tapi jalanan di hari jum’at ini ramai sekali, padat sekali dan menjengkelkan sekali.
Dan, akhirnya setelah transit beberapa halte dan beralih menggunakan angkot untuk sampai rumah, masih saja kena macet dan terjebak dikepadatan mobil juga motor, dan akhirnya aku pun sampai rumah.

Akhirnya sampai juga aku mencium tangan ibu dan pipi ibu, memakan masakan ibu yang sudah beliau pamerkan sejak ditelphone ditengah perjalananku pulang, kemudian merebahkan tubuhku di atas kasur kesayanganku.

Selamat malam Jakarta dihari Jum’at.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sore itu, sesaat matahari mulai berubah warna menjadi orange beraroma kopi susu terfavorite, kita duduk berdampingan sambil saling menikmati keindahan senja itu di halaman rumah. Duduk di pendopo depan rumah, kita berbincang, tertawa dan sesekali termenung. Seperti biasa, kita ceritakan tentang hari-hari lalu yang kita lalui, dan tak sedikit pula kita sama-sama tersenyum membericakan masa depan. Senangnya aku saat bisa menceritakan hari-hari sulit dan hal yang mudah yang dapat ku lalui tanpa dampingannya. Tersenyum aku saat mendengar semua ceritanya yang jarang sekali ku dengar keluhan dari mulutnya. Akulah yang manja yang biasanya banyak mengeluh padanya. Ia ceritakan masa kecilnya, masa-masa alay-nya dan masa-masa terlabil-nya. Sesekali aku menertawakan ceritanya yang sambil ia peragakan seperti sedang melawak. Sama. Ia pun tak jarang menertawakan hal bodoh yang ku lakukan untuk melalui hari yang ku anggap sangat sulit ku lakukan sendirian.

Aku panggil ia Arjuna.

Ia bukan sosok tampan, tinggi dan putih di cerita mahabarata. Ia pun juga bukan orang yang khas membawa busur panah kemanapun ia pergi. Tapi tak perlu ia tampan dalam wajah, cukup baik budi pekertinya. Ia tak perlu juga ahli dalam menggunakan busur panah, tapi ahli lah menjadi orang yang lebih baik setiap harinya.

Arjuna,
Tumbuhlah setiap harinya dengan perangai yang baik. Meskipun saat ini mungkin memang aku tak bisa melihatmu setiap harinya, tapi do’a ku untukmu setiap waktu. Jadilah orang yang terus membanggakan orang-orang yang menyayangimu.

Semakin hari, hidup pasti memiliki arti yang sangat bermakna. Kita tak mungkin setiap sore menikmati kopi seperti ini. Akan selalu ada suasana baru yang akan kita lalui. Tapi ku harap itu masih bersamamu.

Kita masih akan selalu bersama-sama bercerita, tertawa bersama, termenung bersama, mengkhayal bersama dan mungkin sampai nanti jika aku harus menangis tak mampu menahan liarnya kehidupan ini, aku hanya berharap kau takkan melihat tetesan air yang sedikit jatuh membasahi ujung mataku. meskipun semuanya pasti di suasana yang berbeda. Mungkin bukan lagi di halaman rumah seperti ini. Mungkin saja kita akan menikmati kopi di senja pegunungan, atau pagi hari dipinggir pantai dengan alunan ombak. Apa saja tapi ku harap masih bersamamu, Arjuna.

“jika memang menjadi superhero begitu mustahil, cukuplah menjadi pendengar yang baik untuknya.”


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Bersama angin semua angan terbang melayang.
Hembusannya semilir namun menghilangkan.
Jika habis semua anganku, untuk apa lagi aku dibukit seindah ini?
Jangan lagi kau bawa pergi anganku. Jangan lagi kau hilangkan perlahan.
Tak usah berjanji apa-apa. Aku hanya ingin lihat yang kau lakukan.
Jika aku salah dengan semua anganku, akan ku pilih lagi angan yang akan akan ku angankan.
Tapi jangan lagi di bawa angin.
Nanti angin bisa katakan pada semua orang tentang anganku yang dibawanya.
Jika semua orang tahu tentang apa yang aku angankan, entah apa yang akan mereka cemooh.
Tak apa angin hadir namun jangan bawa pergi anganku.
Kemarin kau bawa pergi anganku hingga rangkaian anganku terputus.
Takkan ku menyalahkan angin, mungkin salahku tak jaga anganku.

Mungkin salahku tak lakukan anganku jadi kenyataan hingga angin yang bosan menampung semua anganku.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Dua puluh dua, kemarin. Bertambah dewasa sudah harus. Bertambah berat badan sudah pasti jangan. Hawa hangat terasa kedalam sukma kala kedua pipi dan kening ini dikecup dengan basuhan do’a dari wanita tersayang dan paling tercinta. Sedetik kemudian air menetes sedikit dari sudut mata yang tidak bulat tidak pula sipit ini. Seakan darah mengalir deras tapi tetap terasa hangat. Selesai pelukan itu, kami sama-sama mengusap ujung mata kami. Kami memang melankolis.

Untaian do’a dan harapan terus mengalir sepanjang hari semoga semua akan terkabul. Bunga mawar putih kemudian menjadi pengharum pagi di dua puluh dua. Kemudian bungkusan yang agak besar berwarna ungu dengan hiasan bungkus kado yang indah bersanding bersama sang mawar. Entah apa isinya, jawab sang pemberi hanya senyum. Dan membuka bungkusan besar itu bersama-sama layaknya anak kecil berumur 5 tahun yang sedang membuka bungkusan kado ulangtahun dihadapan teman-temannya. Lagi-lagi pria ini membuatku tak habis pikir dengan pemberiannya. Cantik sekali isinya.

Sore menyambut dengan indah dan bungkusan persegi panjang ku dapatkan lagi. “untukmu lagi”, katanya. Entah apa lagi, dan kemudian bersama-sama lagi membuka bungkusan itu. “terimakasih” kataku untuknya yang tak pernah mau menebarkan janji.

Lilin-lilin kecil tak ku sangka mulai beraksi diatas bulatan berwarna coklat. “selamat ulangtahun lagi” kata ibuku bersama dua adikku. Meski tak selengkap tahun kemarin, tapi ayah pasti do’akan dari sana.
“hidup harus terus berjalan kedepan, meski bumi hanya berputar pada porosnya. Yang lalu takkan pernah kembali. Yang hilang takkan muncul lagi. Hidup terlalu berharga untuk terus dihiasi dengan tetesan air mata. Takkan tumbuh bunga mawar yang indah jika disiram dengan air mata.”- dua puluh dua di dua puluh tiga.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sebagian besar orang pasti pernah duduk dibangku taman kanak-kanak. Ya paling tidak mereka pasti tau apa itu taman kanak-kanak. Taman kanak-kanak adalah salah satu pendidikan usia dini yang berumur sekitar 4-6 tahun. Disana anak-anak diajak untuk belajar sambil bermain. Mengenal hitungan sambil bernyanyi. Membaca sambil bernyanyi. Melakukan gerak sambil berjoget-joget. Mengenal bentuk dengan menggambar. Mengenal warna dengan mewarnai. Dan masih banyak lagi hal mengasikan yang ada di taman kanak-kanak.

Selain kepolosan anak-anak kecil yang menggemaskan, di taman kanak-kanak mereka mengenal dan tahu tanpa harus ditekankan bahwa mereka “harus” bisa. Mereka akan memahami dan mengerti dengan cara mereka. Padahal, belajarnya pun sudah sambil bermain tapi masih saja ada waktu istirahat untuk bermain. Namanya juga taman kanak-kanak.

Oke, biasanya dihalaman taman kanak-kanak ada banyak permainan yang bisa dimainkan oleh anal-anak saat jam istirahat. Ada perosotan, ada jungkat-jungkit, ada ayunan, ada juga yang buat muter-muter itu entah apa namanya.

Sekarang banyak orang dewasa yang bertingkah seperti anak-anak di taman kanak-kanak. Banyak yang udah capek capek berusaha ngedapetin seseorang tapi pas udah sampe selesai usahanya bukannya diraih malah turun lagi, sama kayak prosotan, udah capek-capek naik anak tangganya malah merosot turun kebawah. Malahan, ada yang males buat naik anak tangga prosotan karena males antri sama yang lain, jadi dia usaha buat naik lewat prosotannya itu padahal licin tapi pas udah sampe atas prosotan malah turun lagi. Ya kan namanya prosotan, mel -_-

Ada juga yang udah dikasih angin enak pelan-pelan kayak diayunan sampe ketiduran tapi hati-hati kalo temennya iseng dorong dari belakang bisa jatoh.

Belom lagi jungkat-jungkit, kadang kita diatas, kadang kita yang dibawah. Tapi gue dibawah muluk, iyalah ya temen gue badannya kurus lah gue gendoot -_-

Nah, ini kan yang namanya taman kanak-kanak ya buat bermain, buat seneng-seneng, buat ketawa-ketawa. Tapi lain sama hati, jangan pernah main-main sama hati. Kalau terluka di taman kanak-kanak masih bisa diobati, tapi kalo hatinya yang terluka mau gimana?

“Bang, hati adek ini jangan buat main-main, kalau abang mau main-main di taman kanak-kanak aja bang”




Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Sudah terhitung 3 bulan saya melakoni sebagai mahasiswi tingkat akhir berlabel galau skripsi. Seharusnya saya lebih beruntung dari teman-teman yang lain. Saya memiliki dosen pembimbing yang 1000x lipat jauh enaknya dari dospem dospem killer lainnya. Apapun yang saya ingin dibuat, beliau mengangguk dan menambahkan sedikit reverensi tambahan. Tapi... sudah 3 bulan ini juga skripsi saya hilang arah. Hilang semuanya. Hilang.......

Ketika awal-awal dengan semangat juang 45 para pahlawan memperjuangkan kemerdekaan bangsa Indonesia, saya juga punya semangat juang 2014 memperjuangkan wisuda tahun ini. Sebulan berlalu, semangat masih membara. Masih mencari segala reverensi buku atau apapun macamnya. Kopi masih sahabatan sama aku. Mata masih bisa diajak kompromi sampe jam 3 subuh.

Dua bulan berlalu...

Semangat masih berkobar untuk memecahkan coding coding program yang sudah mulai bikin mual.

Dan sampai saat ini, terhitung 3 bulan kemudian semenjak hasil pengumuman skripsi dikeluarkan, semangat saya makin lama makin memadam. Mungkin butuh minyak tanah lagi untuk mengobarkannya atau apapun yang bisa membakar semangat saya menjadi lebih besar. Hilang arah dan semua jadi tidak bersahabat, entahlah, jenuh melihat coding yang tak kunjung sukses, mungkin.

Skripsi jangan ngambek ya plissss

Aku mau selesai bulan juli ini. Tolonglah plissss. Princess melan pusing liat codingan yang error terus. Princess melan mau nangis kalo lama-lama liat codingan yang ga keluar outputnya.

Skripsi...
Maaf ya, harusnya tiap malam saya ngotak ngatik codingan yang sebenarnya sepele dan hal kecil.
Maaf ya, harusnya saya nulis bab 3  tapi saya malah nulis blog.

Maaf ya...
Share
Tweet
Pin
Share
2 komentar
Mendongak ke atas sana disiang hari takkan ada apa-apa. Ya paling tidak terkena butiran hujan atau menatap awan sendu bergerumul. Takkan ada pancaran sinar matahari yang muncul memanaskan mata bola pingpongmu. Tunjuk kelangit mendung itu, selain awan hitam, langit keabu-abuan, ada apa lagi disana?

“Eh, ada senyum manis bulan sabit disana”

“Tapi bukankah ini siang hari? Takkan mungkin ada bulan sabit terlihat”

Ku ambil cermin dan ku arahkan pada parasmu,

“coba saja kau lihat ke cermin, mukamu terlihat jelek saat bingung. senyummu sedang dipinjam langit untuk mencerahkan hari ini”

Hari berikutnya, coba lagi intip langit diatas sana. Memang sedang cerah dan terik. Mata bola pingpongmu kali ini mungkin tak kan kuat bila menatapnya.

“Tapi lihat kearah lain, awannya membentuk dua lingkaran indah memancarkan kesejukan”

“takkan ada matahari membuka cabang menjadi tiga!”

Masih saja dia tak percaya dengan apa yang ku katakan, ku ambilkan lagi cermin untuknya,

“pantas saja kau tak pernah percaya, matamu di pinjam langit untuk meneduhkan dunia, memberi keseimbangan untuk cahaya matahari”

Malamnya, kami melihat bintang bersama. Katanya, “bintang tak hanya muncul di malam hari”

“ya, aku tahu, bintang memang ada, tapi karena cahaya matahari, maka bintang tak terlihat disiang hari”

“tidak, bintang yang ini selalu terlihat disetiap aku melihat kedua matamu yang indah, entah pagi, siang, senja ataupun malam”


Langit mungkin menertawakan kami, tapi kami tidak pernah meminta biaya sewa untuk senyum dan mata kami.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
bukan dengan karena aku mengiyakanmu
bukan dengan karena aku mau beriringan denganmu
bukan dengan karena aku mau menggenggam tanganmu
bukan dengan karena aku mau selalu disamping
dan bukan dengan karena aku mau selalu mempercayaimu

bukan karena kau setampan edward cullen
bukan karena kau segagah jacob black
bukan karena kau se-charming harry styles one direction
bukan karena kau semenggemaskan anggry bird berwarna merah
bukan karena kau selucu panda yang sedang memakan daun bambu
dan juga bukan karena kau semempesona yong-hwa oppa

tapi
karena kamu adalah kamu
kamu yang mampu membuatku mengiyakanmu
kamu yang mampu mengatur posisimu hingga kita selalu beriringan
kamu yang mampu menggengam tanganku disetiap kita berjalan bersama
kamu yang mampu membuatku selalu disampingmu
kamu yang selalu membuatku mempercayaimu untuk selalu tersenyum bersama

ini bukan tentang angan dan khayal tapi ini tentang bagaimana berjuang bersama. ini bukan tentang masa lalu tapi ini tentang masa depan bersama. ini bukan tentang keraguan tapi tentang pantas untuk dipercaya. dan ini bukan tentang membuat senyuman tapi tentang bagaimana selalu ada disaat suka dan duka.

karena "tanpa karena" aku menyayangimu. karena setiap yang tulus tak perlu alasan. cukup berusaha melakukan yang terbaik untuk bersama. bukan terbaik hanya untukmu atau hanya untukku saja.

terimakasih, kamu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
selamat malam yah,
malam ini udara terasa menusuk tajam di sekujur syaraf tubuhku.
entah kenapa aroma hujan malam ini menyumbat pernafasanku.

ayah,
apa dunia ini sebuas raja hutan?
apa kota ini terlalu sesak untuk melengkungkan senyum?
apa rumah ini terlalu sempit untuk kita bergandeng tangan?

ayah ini ayah terhebat di dunia. ayah yang ini ayah yang paling kuat di hidup kami. ayah ini ayah yang paling tangguh di hati kami. ayah yang tak pernah membagi duka. ayah yang selalu tersenyum dibalik lelahnya. ayah yang tak ingin orang-orang yang dicintainya tertegang pucat mengkhawatirkannya.

yah, terimakasih telah mengajarkan kekuatan paling hebat sedunia. bagaimana cara bertahan hidup. bagaimana cara tersenyum dibalik kerasnya hidup. bagaimana cara menjadi orang yang paling berkomitmen teguh dikehidupan.

yah, mungkin memang saat ini aku belum bisa membawakan bintang dan bulan buat malam ayah, belum bisa memberikan matahari dan awan sejuk di siang ayah, belum bisa mebawakan pelangi setelah hujan badai yang menghampiri ayah. tapi untuk terus membuat ayah tersenyum bahagia apapun akan aku lakukan.

untuk ayah pling hebat sedunia. semoga ayah semakin bahagia dan semakin tenang disana. kami disini selalu mendo'akan untuk kebahagiaan ayah. dan akan terus berusaha menjadi kebanggaan dihati ayah.

salam rindu dariku untukmu yang selalu dan tak pernah habis untuk dirindukan, ayah.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Ketika rintikan hujan, hembusan angin malam, jantung yang berdegup kencang.
Ketika hati yang tak tahu harus berkata apa.
Ketika mulut tak mampu untuk berbisik.
Kunang-kunang tersenyum merendah kala melihat kita.
Bersinar membentuk cahaya berisyarat kan anggukan untukmu.
Bintang-bintang bercahaya membuat gugusan.
Membentuk inisial menembus hatiku.
Bulan melengkungkan senyum.
Memberikan kehangatan untuk dinginnya malam.
Dan ketika kau menghilang bayanganmu menjauh.
Tiba-tiba muncul gugusan rindu yang berbisik namamu.
Iya-kan saja dan berharap tak akan ada sesal nantinya.
Iya-kan saja dan lakukan yang terbaik.
Iya-kan saja dan percaya padanya yang takkan membuatmu menangis, janjinya.

Jangan pernah ingkari janji, untuk 1 kali ingkari janji maka bayarannya ketidakpercayaan ditiap waktu.
Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Kopi hangat di tengah rintik hujan.
Menenangkan pikiran, katamu.
Mencerahkan hujan, bisikmu.
Menghangatkan suasana, katamu.
Kopi hangat di pinggiran senja.
Mengharumkan sepanjang hari, katamu.
Mengindahkan soremu, katamu.
Menjadikan orange di mataharimu.
Kopi hangat selalu beraroma ditiap harimu.
Kopimu terlihat hitam tak berwarna cerah.
Tapi mampu menyempurnakan harimu.

Caramu membuat kopimu.
Caramu meminum kopimu.
Caramu menghidangkan kopimu.
Caramu  meniup-niupkan kopimu.
Dan semua caramu bersama kopimu.
Membuat aku menyukaimu dan kopi.

Aku jatuh cinta.
Padamu dan kopi.
Pada caramu.
Pada keindahanmu.
Pada aromamu.


Share
Tweet
Pin
Share
No komentar
Older Posts

About me



Holla, saya Melan. Kuli coding yang merangkap sebagai penulis diblog ini. Selain berbagi rasa, disini saya juga berbagi info-info menarik loh. Semoga bermanfaat buat temen-temen semuanya. Selamat membaca dan menikmati. Terima kasih, salam manis dan hangat ♥

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • Instagram

Categories

berbagimanisan foodhunter manisanmanis travelling

recent posts

Blog Archive

  • ▼  2020 (1)
    • ▼  Mei (1)
      • Dirumah Aja Ya
  • ►  2019 (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2018 (8)
    • ►  November (2)
    • ►  Oktober (2)
    • ►  September (1)
    • ►  Agustus (3)
  • ►  2017 (8)
    • ►  November (1)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (3)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Maret (1)
  • ►  2016 (9)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Januari (4)
  • ►  2015 (7)
    • ►  Desember (3)
    • ►  November (3)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2014 (7)
    • ►  November (2)
    • ►  Juni (2)
    • ►  Februari (1)
    • ►  Januari (2)
  • ►  2013 (6)
    • ►  Desember (2)
    • ►  Agustus (1)
    • ►  Mei (3)
  • ►  2012 (11)
    • ►  Desember (3)
    • ►  Juli (1)
    • ►  Juni (1)
    • ►  Mei (2)
    • ►  April (1)
    • ►  Maret (2)
    • ►  Februari (1)
  • ►  2011 (11)
    • ►  Oktober (1)
    • ►  September (2)
    • ►  Agustus (2)
    • ►  Juli (2)
    • ►  April (2)
    • ►  Maret (1)
    • ►  Januari (1)
  • ►  2010 (3)
    • ►  Desember (1)
    • ►  Juli (2)

View

Friends

FOLLOW ME @INSTAGRAM

Created with by ThemeXpose